…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for September 10th, 2008


…Tua-tua Keladi…

Akhirnya datang juga waktunya. Duduk di kafe, laptop di depan muka, wireless internet, dan secangkir kopi. Ceritanya test drive laptop baru nih :-)

Anyway, bukan itu inti ceritanya. Cerita ini berawal di jeda makan siang di hari senin yang membosankan. Sengaja turun makan agak telat, ceritanya mau ngeganti waktu karena paginya datang terlambat. Makan siang sendirian bukan masalah buat gua. Lagi pula, itu skenario yang terbaik kalau memang rencananya adalah menghabiskan makanan secepatnya dan kembali bekerja.

Duduk sendirian di meja bundar. Ada 5 tempat duduk kosong di sekeliling meja. Tinggal tiga suapan terakhir, saat itu juga kakek ini datang. Dia langsung duduk di salah satu kursi di meja yang sama.

“Lu, ninggalin gua lu.” selorohnya dalam bahasa Inggris. Beliau seorang Norwegia. Dua puluhan tahun terakhir dihabiskannya di Inggris. Itu yang gua rasa membuat dia beda dari orang-orang Norwegia yang lain. Dia lebih gampang diajak ngobrol dan ngajak ngobrol.

Males, gua pikir. Gua udah mau selesai makan, elu pake datang segala, dalam hati gua. Anyway, gua inget beberapa hari sebelumnya makan satu meja sama dia plus satu orang lain lagi. Obrolan kita waktu itu cukup menarik. Jadi gua putusin buat tinggal lebih lama lagi dan nemenin dia makan.

Ngga seperti beberapa hari sebelumnya, kali ini dia keliatannya kurang bersemangat. Mungkin kelaparan, karena telat makan. Jadi gualah yang berinisiatif bikin bahan pembicaraan.

Yang paling gampang untuk bikin orang cerita adalah tanya sesuatu tentang dirinya. Jadi itulah yang pertama gua lakukan. Dan gua bersyukur telah melontarkan pertanyaan itu. Cerita beliau sangat mengesankan.

Di tahun 2001, beliau mengambil program master dalam bidang instrumentasi. Beliau mengambil subjek salah satu teknologi yang up to date dan masih muda usianya. Pemakaiannya di industri belumlah luas, tapi beliau berhasil meyakinkan satu perusahaan untuk menerapkan teknologi itu di beberapa sumur minyaknya. Bukan itu saja, tapi beliau juga berhasil mendapatkan sponsor dari perusahaan yang bersangkutan untuk membiayai studi masternya tadi.

Kalau dilliat dari penampilannya, kakek ini paling ngga umurnya 60 tahun. Itu artinya dia memulai kuliah masternya di usia lebih dari 50 tahun. Wow! Sangat menginspirasi!

Selidik punya selidik, beliau memulai pekerjaannya dari bidang militer. Sampai beberapa lama kemudian dia memutuskan untuk bekerja sebagai teknisi di platform minyak. Lama setelah itu beliau memutuskan untuk meneruskan menimba ilmu.

Yang menarik lagi, situasi di kehidupannya kemudian mengharuskannya untuk berhenti bekerja. Dia yang bekerja di UK harus kembali ke Norway karena merasa ingin menemani ibunya yang sudah tua. Well, kakek umur 60 tahun, at least ibunya ya 60 plus plus lah ya… :)

Jadi beliau memutuskan berhenti bekerja dari perusahaan minyak tempat dia bekerja dan bergabung dengan perusahaan engineering di Stavanger. Secara pandangan khalayak pada umumnya, kepindahan dari sisi klien ke kontraktor adalah langkah yang menakutkan. Ditambah lagi perubahan status kepegawaian dari permanen menjadi kontrak. Tapi beliau bukanlah khalayak tadi. Terlepas dari adanya kebutuhan untuk pindah domisili, tetap gua mengagumi keberaniannya buat melepaskan apa yang dia udah pegang dan memulai hidup yang baru.

Saat ini beliau tinggal di luar kota, di rumah ibunya. Setiap hari harus naik bis minimal satu jam one way. Pastinya banyak ketidaknyamanan yang harus beliau lalui jika beliau terus membandingkan kehidupannya sekarang dengan kehidupan dan pekerjaannya yang sebelumnya.

Makan siang yang membosankan spontan berubah menjadi sebuah moment of inspiration. Setiap hari kita belajar hal baru, sekarang gua makin yakin itu betul. Se-ngganya gua ngga perlu ngerasa nelangsa karena makan siang cuma sama kakek-kakek. For sure he taught me something. Next time mungkin lunch bareng sama seorang nona manis. ;-) Siapa tau? :)