…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for September 14th, 2008


…Kisah dari Ujung Bumi…

Wahai Taruna simaklah dan dengarkanlah. Sebab telah kujejakkan tapak kakiku di ujung bumi. Dan mataku telah menyaksikan tanda-tanda yang terukir di penghujung jalanku.
Jalan yang kutempuh adalah sempit namun panjang bagaikan tanpa ujung. Akan tetapi aku bersaksi kepadamu jalan ini bukanlah tak berujung. Bukan pula tak bercabang.
Jalan ini lurus dan datar. Tak ada gunung dan tak ada lembah. Sungai ataupun lautan tidak dilaluinya. Kokoh dan hitam pekat warnanya. Di sisi kirinya dan kanannya terhampar dataran luas yang putih bagaikan salju.
Aku telah berkelana ke ujung jalan ini. Dan telah kulihat tanda-tanda yang ajaib di ujung jalan ini. Tanda-tanda itu seperti aksara rupanya. Tanda-tanda itu selalu bergerak dan tidak pernah diam. Telah kuhitung jumlahnya. Ada dua belas. Urutan munculnya satu tanda selalu sama, yaitu sesudah yang ini dan sebelum yang itu.
Sisi jalan yang satunya akan menuntunmu ke ujung bumi yang lain. Di ujung yang sana engkau akan menemukan tanda-tanda yang sama seperti yang telah kusebutkan. Urutan dan arah munculnya pun sama seperti yang telah kusaksikan di ujung bumi yang di belakangku. Sebab itu kusebut tanda-tanda itu tanda-tanda ajaib. Dari kedua belas bilangan yang ada pada tanda-tanda itu, sembilan bilangan di antaranya adalah bilangan tunggal sedang tiga yang lain adalah bilangan ganda. Yang bilangan-bilangan tunggal selalu nampak sebelum munculnya bilangan-bilangan ganda.
Tetapi bukan cuma itu. Jikalau engkau telah mencapai ujung bumi dan lalu  berbalik menyusuri jalan yang sama yang telah kau tempuh, engkau akan menemukan persimpangan di depanmu. Aku telah menghitung cabang-cabang  jalan itu. Dua jumlahnya. Ke sini dan ke sana. Ada masanya engkau akan menemukan hanya ada satu belokan. Akan tetapi jikalau engkau berdiam satu saat saja dan menunggu, maka cabang yang satunya akan nampak. Demikian pula halnya, ada satu masa yaitu ketika cabang jalan berada di sebelah jalan yang telah kau tempuh akan hilang seakan ditelan oleh bumi. Akan tetapi jikalau engkau menunggu satu saat saja, cabang jalan yang hilang tadi akan muncul di sebelahmu, yaitu di sisi tanganmu yang lain. Engkau bebas untuk memilih cabang jalan mana yang hendak engkau pilih. Sebab kesemuanya akan menuntunmu ke ujung bumi.
Dan tentang tanda-tanda ajaib yang telah kusebutkan itu, ada masanya tanda-tanda itu bergerak cepat.  Akan tetapi ada waktunya pula tanda-tanda itu bergerak perlahan. Bahkan sangat perlahan. Akan tetapi tanda-tanda itu tidak pernah berhenti untuk berdiam. Seberapa cepat atau perlahan bergeraknya tanda-tanda itu tergantung dari cabang jalan mana yang telah aku pilih ketika aku berada di persimpangan yang telah kusebutkan tadi. Ada masanya aku mencapai ujung bumi dan tanda-tanda itu terlihat jauh daripadaku, sedang mereka bergerak dengan amat perlahan. Akan tetapi ada juga masanya ketika aku tiba di ujung bumi dan kulihat tanda- tanda itu dekat sekali. Bahkan aku melihatnya terhampar tepat di hadapan jari-jari kakiku. Dan ada satu cabang jalan yang telah menuntunku ke ujung bumi, di mana di sana aku menyaksikan tanda-tanda itu bergerak demikian cepatnya. Bagaikan suatu barisan pahlawan yang hendak maju berperang.
Dan inilah yang hendak aku peringatkan kepadamu. Akan ada satu masa yaitu ketika engkau akan mendengar suara yang seperti logam berhantaman dengan logam. Suatu suara yang luar biasa nyaring bunyinya dan seolah akan membuat telingamu tuli. Akan tetapi, itu bukanlah kesudahan dari kesemuanya. Dan inilah yang telah aku perhatikan, yaitu ketika aku sedang duduk merenung di ujung bumi di mana aku melihat tanda-tanda itu bergerak dengan sangat perlahan. Banyaknya suara yang bagaikan logam menghantam logam itu selalu berpasangan dengan satu tanda bilangan yang bersesuaian di antara tanda-tanda itu. Juga telah aku katakan bahwa ada sembilan bilangan tunggal dan tiga bilangan ganda di antara tanda-tanda itu. Yang telah aku perhatikan adalah di masa yang lain, yaitu ketika aku sedang berdiri memandang  tanda-tanda itu di ujung jalan yang telah menuntunku ke ujung bumi yang di sana aku melihat tanda-tanda itu bergerak tidak cepat dan tidak perlahan, bahwa ketika tanda bilangan ganda yang terakhir di barisan bilangan-bilangan itu akan nampak di hadapanku, itulah saatnya ketika suara hantaman dahsyat itu akan aku dengar.
Tulisan di atas bukan kutipan dari kitab suci atau suatu manuskrip atau semacamnya. Saya hanya berandai-andai, berimajinasi, gimana sih kira-kira seekor semut yang ”terjebak” di dalam sebuah jam dinding. Semut ini berjalan menyusuri jarum jam yang dikiranya adalah jalan menuju ujung dunia. Dari ujung-ujung jarum itu, dia bisa melihat angka-angka.Yang dimaksud sembilan bilangan tunggal adalah 1 sampai 9, dan tiga bilangan ganda adalah 10 sampai 12. Sedangkan yang dimaksud percabangan jalan adalah titik temu jarum detik, menit, dan jam. Waktu dia berjalan menyusuri jarum penunjuk detik dan sampai di ujungnya, semut itu melihat angka-angka yang bergerak dengan cepat. Tentu sebetulnya bukan angka itu yang bergerak, tapi jarum jam tempat dia berdirilah yang bergerak. Pada kesempatan yang lain, semut itu berada di ujung jarum pendek penunjuk jam. Dari sana dia melihat angka-angka itu lebih jauh posisinya dan ”pergerakannya” lebih lambat. Pada saat jam menunjukkan pukul empat, dia mendengar dentingan lonceng sebanyak empat kali. Pada saat jam 5, lima kali, demikian seterusnya. Ketika dia berada di ujung jarum menit, dan bertepatan dengan saat jarum itu menunjuk ke angka 12, semut itu mendengar dentingan lonceng. Jumlah dentingannya tergantung dari jam berapa saat itu.