…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for September 19th, 2008


…Memandang Menembus Kesederhanaan…

Banyak hal sederhana yang sebetulnya penting. Dan banyak pula hal penting yang sebetulnya sederhana. Saya ingin mengajak Anda untuk menengok beberapa penggalan dari aktivitas keseharian orang-orang di sekitar kita.

Seorang ibu yang memasak makanan untuk makan malam di dapur rela menghabiskan waktunya selama berjam-jam untuk memasak. Tambah lagi bumbu ini, tambah lagi bumbu itu, tambahkan air, kecilkan apinya, diaduk pelan-pelan, ditiriskan, dan serentetan lagi prosesi masak memasak lainnya. Beliau ingin masakannya nanti akan menjadi masakan yang lezat. Bukan hanya sekedar bisa dimakan.

Dinda yang senang main piano menghabiskan waktunya untuk mempelajari sebuah lagu. Bukan sekedar belajar, tapi dia betul-betul memperhatikan setiap detail lagunya. Bukan sekedar membunyikan sebuah nada, tapi seberapa keras atau lembutnya nada itu dibunyikan. Setiap bar yang tertera di partitur dilatihnya dengan sungguh-sungguh.  Terus diulangi dan diulangi lagi. Untuk kebanyakan orang lagu itu sudah terdengar sangat indah. Tapi Dinda ingin lagunya terdengar sempurna.

Lalu apa yang istimewa? Bukankah contoh-contoh di atas tadi adalah kejadian biasa saja? Terlalu biasa, pikir kita.

Mungkin Michaelangelo adalah salah satu contoh yang tidak biasa. Atau Mozart. Beethoven. Colonel Sanders dengan KFC-nya. Memang pada akhirnya dunia mengakui mereka adalah pribadi-pribadi yang hebat. Yang mungkin agak sering terlewat oleh kita adalah bahwa mereka, orang-orang hebat ini, mereka juga menelurkan karya-karya besarnya melalui pola yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang biasa.

Inilah pola yang saya maksud: Pekerjaan mereka didasari oleh cinta, dibekali dengan keinginan untuk mencapai hasil yang terbaik, dipagari oleh disiplin, kerja keras, dan komitmen, mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mereka. Baik hasilnya adalah nasi timbel yang hangat mengepul di pelosok Bogor. Ataupun sebuah lukisan seorang wanita yang sedang tersenyum yang sekarang terpampang di Louvre, bukankah ada kesamaan pola di antara mereka?

Ada satu lagi yang polanya juga mirip dengan ini, yaitu Sang Pencipta kita yang sedang terus menyempurnakan karya-Nya. Anda dan saya adalah karya-karya-Nya. Polanya juga serupa, yaitu didasari oleh cinta, cinta yang sempurna. Standar kualitas-Nya adalah kesempurnaan. Dan Dia tidak akan pernah berhenti menyerah sebelum hasil karya-Nya selesai.

Lebih dari seorang maestro, Tuhan mengerjakan karya-Nya, yaitu hidup kita. Bagaikan sebuah lukisan yang akan dipamerkan di dinding istana seorang raja, itulah Anda. Bukan sekedar sebuah reklame yang dipajang di tepi jalan. Bagaikan sebuah lagu yang akan dimainkan di pesta pernikahan seorang pangeran, itulah kita. Bukan sekedar lagu yang dinyanyikan orang di sudut jalan. Bagaikan makanan yang akan dihidangkan di jamuan makan malam kerajaan, itulah Anda dan saya. Bukan sekedar makanan yang bisa dibeli oleh semua orang di warung makan.

Di waktu yang akan datang, ketika Anda melihat seseorang sedang bekerja, walaupun itu seorang yang sederhana yang mengerjakan sebuah pekerjaan yang paling sederhana, semoga Anda teringat bahwa Tuhan sedang terus bekerja pada diri Anda. Dia sedang membentuk sebuah karya yang sempurna, yaitu hidup Anda. Dan Dia tidak pernah gagal.