…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for September, 2008


…Jangan Lupa…

Kadang gua masih bingung, apa semestinya gua bersyukur atawa menyesal. Gua inget taun-taun pertama gua sadar bahwa gua ini laen, rasanya masa-masa itu adalah masa yang berat banget. Malahan pernah rasanya gua hampir jadi gila. Tapi sekarang, setelah ngelewatin entah berapa macam proses dan juga seiring berjalannya waktu, gua mulai bisa bahagia dengan keunikan gua. Nama gua Dimas. Gua bisa baca pikiran orang. Salam kenal.

Duduk di dalem bis kota selama perjalanan ke kantor tiap harinya adalah semacem nonton film buat gua. Cuma perkaranya, bukannya cuma ada satu alur cerita. Tapi puluhan. Dan semuanya gak ada yang nyambung. Beberapa waktu yang lalu gua akhirnya bisa belajar ngefokusin pikiran gua. Jadi sekarang gua udah lebih tenang karena ngga ngerasa dibombardir sama jutaan informasi. Gua bisa fokusin ke arah orang yang mana yang pengen gua dengerin atau gua baca isi pikirannya. Ngga berarti bahwa suara isi pikiran orang-orang laen yang di sekitar gua jadi ngga kedengeran sama gua, cuma gua jadi bisa milih buat fokus sekarang.

Pagi ini bis kota lumayan penuh. Si cowo yang duduk di deket pintu depan itu pasti mahasiswa. Mahasiswa teknik. Jangankan gua yang bisa baca pikiran gini, orang-orang normal juga gua rasa bakal langsung bisa nebak. Kucel, baju belel, rambut gondrong, gak mandi. Ya itulah, mahasiswa teknik! Doi sibuk ngomel-ngomel dalem pikirannya. Lupa ganti kolor dia rupanya. Itu sebabnya mukanya cemberut terus dari tadi. Gua pikir, ya wajarlah elu lupa ganti kolor, orang mandi aja dia lupa? Tuh, dari tadi dia ngomel-ngomel dalem hatinya kenapa dia sampe lupa ganti. Katanya dalem hati, ”Bolehlah dikata gua jarang mandi, tapi kalo kolor sih gua selalu ganti tiap hari. Ampir gak pernah gua lupa. Siyal, mana gua ada dua ujian pula hari ini! *Gerutu*”

Yang bikin gua heran sebenernya bukan perkara kenapa dia lupa ganti. Tapi kenapa kok dia ngebiarin pikirannya muter-muter di situ terus. Coba, dia ada dua ujian hari ini. Dia perlu konsentrasi buat ujian-ujian itu. Emang kolor dipake buat mikir? Kan otak ya? Belum lagi dia tau bahwa kurikulum taun depan bakalan berubah. Kalau dia gak lulus ujian taun ini, taun depan itu kuliah dipecah jadi dua. Dia bakalan harus ngulang empat ujian kalau dia gak lulus yang sekarang! Kalau dia lulus, dia bisa mulai masukin lamaran kerja. Ada perusahan yang dateng ke kampusnya buat cari fresh grad. Bahkan yang belum wisuda, asal yang penting udah lulus semua kuliah semester 6. Kalo taun depan dia dapet kerja, taun depannya lagi dia bisa nikahin pacarnya. Ini malahan sibuk mikirin lupa ganti.

Sering gua denger isi pikiran orang-orang yang senada sama dia. Orang pada fokus ke hal kecil yang ngeganjel, dan lupa sama hal-hal yang sebetulnya jauh lebih penting. Jauh lebih berharga buat dipikirin. Padahal seandainya mereka tau pentingnya milah-milah apa yang perlu atau gak perlu dipikirin, kehidupan mereka bakal lebih kerasa maknanya.

Makanya nanti pas gua turun gua mau kasihin ini ke dia. Secara kalo gua langsung ngomong di depan idungnya, dia pasti bakalan kaget setengah mati, maka gua tulis aja di kertas. Sambil turun nanti gua kasihin ke dia. Gua perlu alihin fokus dia.

”Saya yakin kamu bakal dapat nilai yang terbaik di ujian-ujian hari ini. Selamat berjuang!!”

Jadi kesimpulannya… Jangan lupa ganti………………….? (isilah titik-titik di samping)

A. kolor setiap hari

B. nama kalo lupa ganti kolor

C. fokus dari hal yang kurang penting ke hal yang lebih penting

D. semua benar

E. saya tidak tahu

…Memandang Menembus Kesederhanaan…

Banyak hal sederhana yang sebetulnya penting. Dan banyak pula hal penting yang sebetulnya sederhana. Saya ingin mengajak Anda untuk menengok beberapa penggalan dari aktivitas keseharian orang-orang di sekitar kita.

Seorang ibu yang memasak makanan untuk makan malam di dapur rela menghabiskan waktunya selama berjam-jam untuk memasak. Tambah lagi bumbu ini, tambah lagi bumbu itu, tambahkan air, kecilkan apinya, diaduk pelan-pelan, ditiriskan, dan serentetan lagi prosesi masak memasak lainnya. Beliau ingin masakannya nanti akan menjadi masakan yang lezat. Bukan hanya sekedar bisa dimakan.

Dinda yang senang main piano menghabiskan waktunya untuk mempelajari sebuah lagu. Bukan sekedar belajar, tapi dia betul-betul memperhatikan setiap detail lagunya. Bukan sekedar membunyikan sebuah nada, tapi seberapa keras atau lembutnya nada itu dibunyikan. Setiap bar yang tertera di partitur dilatihnya dengan sungguh-sungguh.  Terus diulangi dan diulangi lagi. Untuk kebanyakan orang lagu itu sudah terdengar sangat indah. Tapi Dinda ingin lagunya terdengar sempurna.

Lalu apa yang istimewa? Bukankah contoh-contoh di atas tadi adalah kejadian biasa saja? Terlalu biasa, pikir kita.

Mungkin Michaelangelo adalah salah satu contoh yang tidak biasa. Atau Mozart. Beethoven. Colonel Sanders dengan KFC-nya. Memang pada akhirnya dunia mengakui mereka adalah pribadi-pribadi yang hebat. Yang mungkin agak sering terlewat oleh kita adalah bahwa mereka, orang-orang hebat ini, mereka juga menelurkan karya-karya besarnya melalui pola yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang biasa.

Inilah pola yang saya maksud: Pekerjaan mereka didasari oleh cinta, dibekali dengan keinginan untuk mencapai hasil yang terbaik, dipagari oleh disiplin, kerja keras, dan komitmen, mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mereka. Baik hasilnya adalah nasi timbel yang hangat mengepul di pelosok Bogor. Ataupun sebuah lukisan seorang wanita yang sedang tersenyum yang sekarang terpampang di Louvre, bukankah ada kesamaan pola di antara mereka?

Ada satu lagi yang polanya juga mirip dengan ini, yaitu Sang Pencipta kita yang sedang terus menyempurnakan karya-Nya. Anda dan saya adalah karya-karya-Nya. Polanya juga serupa, yaitu didasari oleh cinta, cinta yang sempurna. Standar kualitas-Nya adalah kesempurnaan. Dan Dia tidak akan pernah berhenti menyerah sebelum hasil karya-Nya selesai.

Lebih dari seorang maestro, Tuhan mengerjakan karya-Nya, yaitu hidup kita. Bagaikan sebuah lukisan yang akan dipamerkan di dinding istana seorang raja, itulah Anda. Bukan sekedar sebuah reklame yang dipajang di tepi jalan. Bagaikan sebuah lagu yang akan dimainkan di pesta pernikahan seorang pangeran, itulah kita. Bukan sekedar lagu yang dinyanyikan orang di sudut jalan. Bagaikan makanan yang akan dihidangkan di jamuan makan malam kerajaan, itulah Anda dan saya. Bukan sekedar makanan yang bisa dibeli oleh semua orang di warung makan.

Di waktu yang akan datang, ketika Anda melihat seseorang sedang bekerja, walaupun itu seorang yang sederhana yang mengerjakan sebuah pekerjaan yang paling sederhana, semoga Anda teringat bahwa Tuhan sedang terus bekerja pada diri Anda. Dia sedang membentuk sebuah karya yang sempurna, yaitu hidup Anda. Dan Dia tidak pernah gagal.

…Kisah dari Ujung Bumi…

Wahai Taruna simaklah dan dengarkanlah. Sebab telah kujejakkan tapak kakiku di ujung bumi. Dan mataku telah menyaksikan tanda-tanda yang terukir di penghujung jalanku.
Jalan yang kutempuh adalah sempit namun panjang bagaikan tanpa ujung. Akan tetapi aku bersaksi kepadamu jalan ini bukanlah tak berujung. Bukan pula tak bercabang.
Jalan ini lurus dan datar. Tak ada gunung dan tak ada lembah. Sungai ataupun lautan tidak dilaluinya. Kokoh dan hitam pekat warnanya. Di sisi kirinya dan kanannya terhampar dataran luas yang putih bagaikan salju.
Aku telah berkelana ke ujung jalan ini. Dan telah kulihat tanda-tanda yang ajaib di ujung jalan ini. Tanda-tanda itu seperti aksara rupanya. Tanda-tanda itu selalu bergerak dan tidak pernah diam. Telah kuhitung jumlahnya. Ada dua belas. Urutan munculnya satu tanda selalu sama, yaitu sesudah yang ini dan sebelum yang itu.
Sisi jalan yang satunya akan menuntunmu ke ujung bumi yang lain. Di ujung yang sana engkau akan menemukan tanda-tanda yang sama seperti yang telah kusebutkan. Urutan dan arah munculnya pun sama seperti yang telah kusaksikan di ujung bumi yang di belakangku. Sebab itu kusebut tanda-tanda itu tanda-tanda ajaib. Dari kedua belas bilangan yang ada pada tanda-tanda itu, sembilan bilangan di antaranya adalah bilangan tunggal sedang tiga yang lain adalah bilangan ganda. Yang bilangan-bilangan tunggal selalu nampak sebelum munculnya bilangan-bilangan ganda.
Tetapi bukan cuma itu. Jikalau engkau telah mencapai ujung bumi dan lalu  berbalik menyusuri jalan yang sama yang telah kau tempuh, engkau akan menemukan persimpangan di depanmu. Aku telah menghitung cabang-cabang  jalan itu. Dua jumlahnya. Ke sini dan ke sana. Ada masanya engkau akan menemukan hanya ada satu belokan. Akan tetapi jikalau engkau berdiam satu saat saja dan menunggu, maka cabang yang satunya akan nampak. Demikian pula halnya, ada satu masa yaitu ketika cabang jalan berada di sebelah jalan yang telah kau tempuh akan hilang seakan ditelan oleh bumi. Akan tetapi jikalau engkau menunggu satu saat saja, cabang jalan yang hilang tadi akan muncul di sebelahmu, yaitu di sisi tanganmu yang lain. Engkau bebas untuk memilih cabang jalan mana yang hendak engkau pilih. Sebab kesemuanya akan menuntunmu ke ujung bumi.
Dan tentang tanda-tanda ajaib yang telah kusebutkan itu, ada masanya tanda-tanda itu bergerak cepat.  Akan tetapi ada waktunya pula tanda-tanda itu bergerak perlahan. Bahkan sangat perlahan. Akan tetapi tanda-tanda itu tidak pernah berhenti untuk berdiam. Seberapa cepat atau perlahan bergeraknya tanda-tanda itu tergantung dari cabang jalan mana yang telah aku pilih ketika aku berada di persimpangan yang telah kusebutkan tadi. Ada masanya aku mencapai ujung bumi dan tanda-tanda itu terlihat jauh daripadaku, sedang mereka bergerak dengan amat perlahan. Akan tetapi ada juga masanya ketika aku tiba di ujung bumi dan kulihat tanda- tanda itu dekat sekali. Bahkan aku melihatnya terhampar tepat di hadapan jari-jari kakiku. Dan ada satu cabang jalan yang telah menuntunku ke ujung bumi, di mana di sana aku menyaksikan tanda-tanda itu bergerak demikian cepatnya. Bagaikan suatu barisan pahlawan yang hendak maju berperang.
Dan inilah yang hendak aku peringatkan kepadamu. Akan ada satu masa yaitu ketika engkau akan mendengar suara yang seperti logam berhantaman dengan logam. Suatu suara yang luar biasa nyaring bunyinya dan seolah akan membuat telingamu tuli. Akan tetapi, itu bukanlah kesudahan dari kesemuanya. Dan inilah yang telah aku perhatikan, yaitu ketika aku sedang duduk merenung di ujung bumi di mana aku melihat tanda-tanda itu bergerak dengan sangat perlahan. Banyaknya suara yang bagaikan logam menghantam logam itu selalu berpasangan dengan satu tanda bilangan yang bersesuaian di antara tanda-tanda itu. Juga telah aku katakan bahwa ada sembilan bilangan tunggal dan tiga bilangan ganda di antara tanda-tanda itu. Yang telah aku perhatikan adalah di masa yang lain, yaitu ketika aku sedang berdiri memandang  tanda-tanda itu di ujung jalan yang telah menuntunku ke ujung bumi yang di sana aku melihat tanda-tanda itu bergerak tidak cepat dan tidak perlahan, bahwa ketika tanda bilangan ganda yang terakhir di barisan bilangan-bilangan itu akan nampak di hadapanku, itulah saatnya ketika suara hantaman dahsyat itu akan aku dengar.
Tulisan di atas bukan kutipan dari kitab suci atau suatu manuskrip atau semacamnya. Saya hanya berandai-andai, berimajinasi, gimana sih kira-kira seekor semut yang ”terjebak” di dalam sebuah jam dinding. Semut ini berjalan menyusuri jarum jam yang dikiranya adalah jalan menuju ujung dunia. Dari ujung-ujung jarum itu, dia bisa melihat angka-angka.Yang dimaksud sembilan bilangan tunggal adalah 1 sampai 9, dan tiga bilangan ganda adalah 10 sampai 12. Sedangkan yang dimaksud percabangan jalan adalah titik temu jarum detik, menit, dan jam. Waktu dia berjalan menyusuri jarum penunjuk detik dan sampai di ujungnya, semut itu melihat angka-angka yang bergerak dengan cepat. Tentu sebetulnya bukan angka itu yang bergerak, tapi jarum jam tempat dia berdirilah yang bergerak. Pada kesempatan yang lain, semut itu berada di ujung jarum pendek penunjuk jam. Dari sana dia melihat angka-angka itu lebih jauh posisinya dan ”pergerakannya” lebih lambat. Pada saat jam menunjukkan pukul empat, dia mendengar dentingan lonceng sebanyak empat kali. Pada saat jam 5, lima kali, demikian seterusnya. Ketika dia berada di ujung jarum menit, dan bertepatan dengan saat jarum itu menunjuk ke angka 12, semut itu mendengar dentingan lonceng. Jumlah dentingannya tergantung dari jam berapa saat itu.