…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for November 28th, 2008


…Foto - Film - Drama…

Membuat sebuah analogi yang bagus untuk menggambarkan hidup kita. Itu bisa membikin kita punya pandangan yang lain tentang hidup ini. Pandangan yang positif. Pandangan yang penuh dengan harapan. Dan ketika kita ada di downside, itu bisa membantu kita buat mengingatkan bahwa situasi itu ngga akan selamanya begitu.
Foto
Gua suka foto-foto. Ngga sampe tergila-gila sih. Kamera gua juga bukan yang paling canggih. Tapi cukup bagus buat mengabadikan momen-momen yang spesial. Saat-saat menyenangkan sama temen-temen. Momen penting kaya ulang tahun, pernikahan, baptisan. Dan pastinya juga buat mengabadikan pemandangan yang gua sempet nikmatin waktu jalan-jalan ke tempat-tempat yang mengesankan. Mengabadikan. Satu hari nanti gua bisa liat-liat lagi foto-foto itu, dan memori akan momen itu akan datang lagi. Kebanyakan ingatan yang menyenangkan.
Tapi gua ngga menganalogikan hidup ini seperti foto. Gambar diam. Hidup adalah sesuatu yang dinamis. Dan gua ngga bisa membiarkan diri gua terjebak dalam ke-statis-an.
Film
Lain foto, lain juga film. Film, kaya misalnya film yang kita tonton di bioskop, pada intinya adalah gambar juga. Tapi gambar-gambar ini bergerak, jadi merangkai sebuah cerita. Dengan teknik casting yang bagus, dan juga sound efek yang memukau, sebuah film menyodorkan sensasi yang lain. Sensasi tentang dinamisme. Ada cerita di sana. Perubahan suasana. Pergantian emosi. Kadang juga sebuah film mengajak penontonnya menganalis jalan cerita. Nebak-nebak sebenernya siapa yang jagoan, siapa yang penjahat.
Seandainya gua diminta memilih antara dua pilihan, foto dan film, mana yang mau gua ambil sebagai sebuah analogi buat hidup gua? Film buat gua lebih representatif buat jadi sebuah analogi. Tapi juga ngga cukup representatif. Kenapa, karena ada yang satu berikut ini.
Theater/Drama/Panggung Sandiwara
Mirip dengan film, sebuah theater/play/drama/panggung sandiwara juga nampilin gambar yang bergerak. Perbedaannya adalah yang ini live, tiga dimensi by default, karena yang tampil di panggung adalah orang-orang yang nyata.  Orang-orang ini menyajikan cerita buat penonton. Mereka perlu latihan, ngehafal naskah, nginget-nginget kapan bagian mereka buat berperan. Kadang juga mereka perlu pake kostum yang sesuai sama peran mereka. Nah, sekarang kalo gua ditanya lagi tentang analogi, gua mau pilih yang ini buat jadi analogi gua tentang kehidupan.
Kenapa Sandiwara?
Iya, kenapa kok sandiwara? Sandiwara kan cuma pura-pura? Iya bener. Cuma pura-pura kalo kita datang sebagai penonton. Tapi buat yang mainin peran itu, itulah kenyataan buat mereka. Para pemeran itu harus menjiwai karakter yang mereka peranin. Dan kadang dengan begitu, mereka harus lupain diri mereka sendiri. Ikutin naskah. Dengerin dan nurutin panduan sutradara. Menjiwai karakter yang mereka peranin. Itulah kenyataan buat mereka.
Sekarang gua berandai-andai gua lagi duduk di bangku penonton. Ada layar nutupin panggung. Drama baru mau dimulai. Layar dikerek naik. Pertunjukan dimulai. Ada tokoh-tokoh yang tampil di panggung. Ada cerita yang ngalir. Ada suasana yang tercipta. Ada kesan yang tercipta juga dalam pikiran dan hati gua. Mereka menyajikan cerita.
Pertanyaanya lagi, kenapa gua lebih suka ini dibanding film? Maksudnya buat diambil sebagai analogi tentang kehidupan.
Pertama, ini adalah live show. Bukan rekaman. Orang-orang pemainnya nyata dan hadir di depan mata gua. Ini bukan rekaman. Jadi ada ruang buat mereka bikin kesalahan. Bisa si pemeran, bisa juga yang bagian nata panggung, atau yang naikin nurunin layar, atau yang bagian lighting dan soundsytem. Selalu ada kemungkinan seseorang bikin kacau. Kan manusa ngga ada yang sempurna.
Kedua, sisi lain dari live show. Para pemeran dan kru, dengan tekadnya buat bikin show mereka sukses, pastinya akan berusaha sebaik-baiknya buat nampilin yang terbagus. Mereka sadar gak ada pengambilan gambar ulang. Kalo ada yang ngomong di waktu yang salah, ya udah, gak bisa diulang. Kalo yang bagian bongkar muat perlengkapan panggung lupa masukin kursi ke panggung, jalan ceritanya bisa jadi agak melenceng. Dan kesalahan-kesalahan akan segera terdetaksi sama penonton. Berangkat dari situ, para pemain dan kru, mereka selain udah berlatih dan nyiapin diri dari jauh-jauh hari, mereka juga berusaha seserius mungkin buat ngehasilin yang terbaik.
Ketiga, masih sisi lain dari live show. Selain ada ruang buat bikin kesalahan, live show juga ngasih ruang buat bikin improvisasi. Bikin sedikit perbedaan. Sedikit tambahan, atau pengurangan di sana atau di sini. Dan itu bisa bikin ceritanya jadi lebih hidup. Sedikit variasi bisa jadi sebuah penyemangat buat para pemeran yang kadang ngerasa kerjaan mereka adalah sebuah rutinitas.
Drama seperti ini menyajikan lebih banyak kemiripan dengan kehidupan nyata. Jadi gua suka analogi ini.
Apa cukup? Ngga!
Tapi itu masih belum cukup buat bikin gua puas. Dengan ngambil dasar theater/drama sebagai basis, gua bikin analogi yang lain lagi. Panggung theater, dengan tembok kaca! Jadi gua bisa liat apa yang terjadi di belakang layar. Pemain yang ini lagi siap-siap masuk panggung. Tukang angkat-angkat mau bawa meja ke panggung. Juru rias lagi nge.make up tokoh utama. Semuanya yang di belakang panggung keliatan jelas. Dan, sutradara! Dia yang sibuk ngatur ini itu, mastiiin shownya berlangsung gemilang. Teriak ke sana, instruksi ke yang satu, bantuin rapiin baju pemeran yang mau naik panggung, mastiin perlengkapan yang tepat naik ke panggung di waktu yang tepat, dan keluar dari panggung sesudah tugasnya selesai. Tentunya ngga ada panggung drama yang kaya gini, dengan tembok kaca. Tapi coba bayangin, bukannya asik liatnya. Nonton another show in a show. Dan mungkin lebih mengasyikkan dibanding nonton apa yang di depan panggungnya sendiri.
Itu analagi favorit gua. Tuhan sebagai sutradara, He is in control about the show! Dia tau yang terbaik. Dia ngatur semuanya buat bikin cerita yang paling indah. Dia perhatiin semua detail, peduli dengan hal yang paling kecil demi supaya shownya sukses. Dia bekerja keras di belakang panggung. Demi apa? Supaya mereka yang di depan panggung bisa tampil dengan baik. Supaya ceritanya lancar dan berjalan sesuai dengan skenarionya.
Sekarang sebagai seorang pemeran tokoh cerita. Gua sadar bahwa tembok belakang itu bukan terbuat dari kaca. Dan kadang sewaktu gua meranin peran di depan panggung, gua ngga selalu bisa liat ke belakang. Tapi dengan sekedar berandai-andai ada tembok kaca seperti itu, gua jadi lebih ngerasa tenang. Lebih bisa berserah. Lebih yakin dalam memainkan peran. Karena gua tau di belakang sana ada yang ngatur segalanya. In fact, this is not my show at all. It is His.
Analogi ini yang gua terapin buat hidup. Di saat gua senang, gua ngerti itu karena ada yang ngatur di belakang panggung. Saat gua ngga senang, gua tutup mata dan bayangin lagi tembok kaca itu. Dan waktu gua liat sosok Sutradara yang sibuk mengatur segalanya, gua jadi tenang lagi.