…Melodi dan Mood…
Selera musik adalah sesuatu yang sifatnya subyektif. Kendati pun begitu, saya terusik untuk menuliskan segurat “penemuan” yang mungkin saja ada gunanya.
Saya bisa bilang bahwa saya bisa menikmati hampir segala macam jenis musik, tapi yang paling saya suka adalah musik pop. Ringan, melodinya mudah dicerna, ritmenya juga pas dengan suasana hati secara rata-rata. Baru saja saya selesai mendengarkan dua album bagus. yang pertama Dave Koz, lalu Norah Jones. Memang CD kedua artist ini sering dipajang di bawah kategori jazz di toko-toko musik, tapi saya rasa mereka sangat condong ke arah musik pop.
Dave Koz dan Norah Jones. Buat saya mereka memiliki banyak kemiripan, terutama dalam harmoni lagu-lagu mereka. Aransemen lagu-lagu yang mudah dicerna. Kebanyakan berbasiskan progresi chord yang pop standar, dan sekali lagi mudah dicerna seperti C-F-Dm-G. Atau Am-F-Dm-G. Melodi-melodi yang mereka sajikan juga indah. Yang saya suka terutama di bagian “lompatan-lompatan” yang jauh, seperti dari do-fa, do-sol, atau do-Do. Kalau saya bayangkan diri saya sedang bermain pasir di tepi pantai, lompatan-lompatan nada yang jauh ini seumpama deburan ombak besar yang mengasyikkan, yang datang sesekali di antara ombak-ombak kecil yang menenangkan.
Tapi walaupun ada kesamaan, saya merasakan efek yang berbeda dari musik keduanya. Benar bahwa vokal keduanya berbeda, Dave Koz bernyanyi dengan saxophone, sedang Norah Jones dengan suaranya yang (kira-kira?) mezzo sopran. Tapi perbedaan suasana yang tercipta saya curigai bukan diakibatkan oleh itu, tapi lebih oleh rentang oktaf yang mereka sajikan. Dave Koz bisa menjelajah 1.5 sampai 2 oktaf dalam satu lagunya, sedang Jones paling banter hanya memakai 1 oktaf. Dengan kata lain, Dave Koz mendatangkan deburan ombak besar yang lebih besar dibanding ombak besar Jones.
Membiarkan diri diayun oleh ombak-ombak besar Dave Koz, serasa ada perasaan “thrilled”. Kadang saya merasakan perasaan yang mirip ketika bermain ayunan dengan ukuran yang cukup besar, tapi tidak terlalu besar, sehingga tetap mengasyikkan tanpa menakutkan. Dan kadang perasaan yang mirip ketika sedang ingin memberikan big long kiss buat seorang yang disayang. Menyenangkan. Mengasyikkan. Tapi juga lebih cepat menguras tenaga.
Norah Jones tidak banyak menyajikan lompatan jauh dalam nada-nada melodinya. Langkah-langkah melodinya lebih dekat-dekat sehingga lebih kuat dalam memberikan kesan menenangkan. Mendengarkan lagu Jones ini serasa sedang mengobrol dengan seorang yang punya ritme berpikir yang mirip dengan diri saya. Bertukar cerita, bertukar pandangan, bertukar pendapat dengan kecepatan mengobrol yang pas, tanpa merasa diburu-buru, dan nyaman karena diberi ruang untuk berbicara dengan bebas. Dan dengan begitu, energi tersimpan lebih lama. Bahkan terasa ada deposit tenaga baru. Jika diteruskan dan diteruskan, energi yang terkumpul makin banyak.
Secara alami saya akan menyimpulkan: jika energi sedang tinggi dan siap diayun ombak, dengarkan Dave Koz, sedangkan jika mood sedang low dan perlu tambahan energi, dengarkan Norah Jones. Tapi anehnya, ada waktunya ketika mood saya sedang low saya, mendengarkan musik Jones tidak banyak membantu meningkatkan mood. Dave Koz malahan yang lebih bisa membangkitkan energi lagi di dalam diri saya. Mungkin justru karena ombak-ombak besarnya tadi. Jika begitu, pertanyaannya, apakah lompatan-lompatan melodi jauh ini yang mengalirkan energi ke dalam diri saya, tapi juga kemudian yang menyerapnya lagi? Kalau memang begitu, apakah ada jangka waktu optimal untuk “recharge” energi dengan mendengarkan musik dengan ombak besar? Maksudnya, hentikan mendengar musik ketika titik optimal ini tercapai, sehingga energi yang sudah masuk tidak keluar lagi. Sebutir pertanyaan kecil.
Dan masih banyak lagi butiran-butiran pertanyaan kecil lainnya. Saya ingin sekali mengintip aktivitas otak ketika mendengarkan musik. Mekanisme-mekanisme fisik dan biologis apa saja yang berlangsung di dalam tubuh manusia. Apa menyebabkan apa. Seberapa besar diperlukan jumlah “ini” untuk menghasilkan efek “itu”, dan kapan efeknya berubah arah, bagaimana, dan mengapa.
December 29th, 2008 at 8:22 am
Vid, coba masukkan keywords “fmri” dan “music” ke Google… gue rasa akan menemukan sejumlah artikel menarik di sana, untuk tambahan bahan penyelidikan
http://www.google.com/search?hl=en&q=fmri+music&btnG=Search
December 29th, 2008 at 8:47 pm
im interested too! (mengintip aktivitas otak ketika mendengarkan musik)
hahahaha seandainya itu bisa dilakukan… maka ga akan ada yang namanya bete ga jelas