…Hipnotis dan Musik…
Scientists menemukan bahwa informasi yang berulang diterima oleh otak kita akan menciptakan “jalur-jalur” di jaringan neuron otak kita. Demikian juga dengan tindakan yang berulang kita lakukan. Semakin sering kita mendengar sesuatu, semakin mudah kita mengingatnya, semakin cepat otak akan memberikan respons yang berkaitan dengan informasi tadi. Itu yang menjelaskan kenapa kita bisa mengingat nomer telefon seorang yang sering kita hubungi. Itu juga yang menjelaskan semakin sering kita berlatih sesuatu, semakin mahir kita melakukannya. Menyetir, memainkan alat musik, bermain tenis, dan sebagainya. Di dalam jaringan otak, “jalur-jalur” yang sering digunakan tadi menjadi semakin tebal dan kuat. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kita sebaiknya berhati-hati dengan apa yang kita pikirkan, karena mungkin itu akan menjadi kenyataan. Mungkin itu ada benarnya, jika dikaitkan dengan temuan para ilmuwan tadi. Pada level jaringan neuron, tepat seperti itulah yang terjadi. Apa yang dipikirkan, yaitu neuron-neuron yang sering digunakan seseorang akan membentuk koneksi yang lebih kuat di antara mereka dibanding dengan koneksi pada jaringan lain. Pikiran menghasilkan sesuatu yang fisikal.
Alam pikiran manusia terdiri dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Kita berpikir secara logis menggunakan pikiran sadar. Di sinilah otak kita mengintepretasikan apa yang ditangkap oleh panca indera. Hasil pengolahan dan interpretasi di dalam pikiran sadar ini kemudian disimpan di ke dalam pikiran bawah sadar. Dengan kata lain pikiran bawah sadar mirip seperti harddrive yang kita gunakan untuk menyimpan data. Pikiran bawah sadar kita tidak melakukan analisis logis seperti yang dilakukan oleh pikiran sadar. Dia menerima dan menyimpan hasil pengolahan pikiran sadar kita. Dan bukan hanya itu, pikiran bawah sadar kita juga menerima hasil olahan tadi sebagai sebuah kebenaran. Sebagai sebuah kenyataan.
Prinsip-prinsip, nilai-nilai yang kita anut berkaitan dengan etika, dan kepercayaan kita, termasuk rasa percaya diri, termuat di dalam pikiran bawah sadar. Di sinilah termuat diri seseorang yang sebenarnya. Pikiran bawah sadar berperan serupa dengan kompas, yaitu sebagai penunjuk arah bagi pikiran sadar. Kita ambil contoh seorang yang berprinsip bahwa dia akan selalu berkata tentang kebenaran. Ketika dia diminta berbohong, pikiran sadarnya bisa saja diajak kompromi. Tetapi pikiran bawah sadarnya, akan mengatakan bahwa dia tidak seharusnya berbohong. Itu sebabnya ketika pada akhirnya dia memilih berbohong juga, dia merasakan konflik batin.
Hipnotis adalah suatu upaya untuk mem-by pass pikiran sadar sehingga seseorang dapat mengakses pikiran bawah sadar. Mungkin Anda pernah melihat dalam acara televisi, seorang yang dihipnotis bisa disuruh untuk melakukan apa saja, termasuk berpose yang lucu-lucu atau menirukan tingkah binatang yang seandainya pikiran sadarnya tidak di-by pass, hal itu tidak akan dengan mudah dia lakukan. Apa yang terjadi di sana? Fungsi analitis dari pikiran sadar dia di-override. Pikiran bawah sadarnya yang kemudian mengambil alih fungsi dari pikiran sadar, dan bereaksi terhadap perintah. Seperti yang saya sebutkan di awal, pikiran bawah sadar tidak menganalisis dan selalu mengartikan masukan informasi sebagai sebuah kebenaran. Itu sebabnya, tidak peduli seberapa memalukannya untuk menirukan “Sarimin pergi ke pasar”, seorang yang terhipnotis dengan taatnya melakukan itu. Di sini bisa kita lihat bahwa hipnotis tidak mem-by pass fungsi kerja otak secara keseluruhan, karena orang tadi masih tetap bisa mendengar perintah, lalu mengolah perintah tadi dan menggerakkan badannya.
Untuk mengakses pikiran bawah sadar, ada beberapa cara yang bisa digunakan oleh seorang pelaku hipnotis. Panca indera adalah pintu menuju ke sana, simply karena panca indera kita terhubungkan dengan otak. Itu sebabnya ada orang yang menggunakan gambar yang memiliki pola dan warna tertentu, atau melalui alunan musik, atau dengan bantuan aroma wangi-wangian, atau mungkin beberapa kombinasi dari mereka.
Terlepas dari cerita tentang hipnotis di atas yang “wow” dan “wah” dan mungkin sedikit menakutkan, proses interaksi antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita selalu berlangsung. Sering juga tanpa kita sadari, proses yang serupa dengan hipnotis kita jalani di dalam aktivitas keseharian. Salah satunya adalah ketika kita sedang mendengarkan musik. Efek dari alunan melodi yang enak didengar, harmoni yang indah, dan ritme yang membuat nyaman, dapat mem-by pass pikiran sadar kita, sedikit banyak mirip dengan hipnotis. Rasa nyaman yang diberikan oleh komponen musikal dari lagu yang kita dengar membuat pikiran sadar kita lebih rileks dan kurang analitis. Di saat yang sama, pikiran bawah sadar kita selalu menerima input dan merekam itu sebagai kebenaran. Termasuk syair atau lirik dari lagu yang bersangkutan. Karena efek nyaman tadi, pikiran sadar kita menjadi kurang kritis terhadap apa isi informasi yang dikandung dan disampaikan di dalam syair lagu yang kita dengarkan. Ini yang saya maksud dengan proses yang serupa dengan hipnotis.
Sebagai seorang pencinta musik, saya menghargai dan menghormati kebebasan setiap pemusik dan penyanyi untuk mencurahkan isi hatinya, menuangkan kreativitasnya, dan berekspresi melalui lagu yang dia ciptakan, dia mainkan, atau dia nyanyikan. Mereka bebas untuk menuangkan apapun di sana. Serupa dengan itu, kita yang mendengarkan juga memiliki kebebasan untuk memilih dan memilah apa yang hendak kita masukkan dan simpan di dalam pikiran bawah sadar kita. Komponen dan unsur-unsur apa yang ingin kita lekatkan ke untuk menjadi bagian dari diri kita, our trueself. Ada lagu-lagu yang memiliki melodi dan harmoni yang enak didengar, tapi syairnya menciutkan semangat hidup, misalnya. Ini yang sering menjadi tantangan. Mana yang mau lebih kita utamakan, lantunan melodi yang kita sukai tapi sembari mencekoki pikiran bawah sadar dengan syair yang mengecilkan semangat, atau sama sekali lagu itu tidak usah kita dengarkan. Di awal tulisan tadi saya sebutkan bahwa semakin sering kita mengulang, semakin kuat sambungan-sambungan yang terbentuk di dalam otak kita. Artinya semakin nyata syair itu itu menjadi bagian dari diri kita.