Nothing happens unless first a dream - Carl Sandburg
Cita-cita atau impian adalah komponen penting dalam kehidupan. Dia yang membuat seorang rela berjuang. Dia yang membuat seorang bangun pagi-pagi dan dengan semangat memulai aktivitasnya. Dia juga yang membuat orang sanggup berkutat sampai larut malam dalam kegiatannya.
Semakin tinggi cita-cita kita, semakin besar semangat yang ditimbulkannya. Tapi di sisi lain, sering orang takut bermimpi terlalu tinggi. Alasannya macam-macam. Mulai dari takut sakit kalau jatuh. Kalau jatuh dari tempat yang lebih tinggi kan lebih sakit, logika bilang begitu. Alasan lain, misalnya, takut nanti kalau sudah tercapai, eh ternyata itu bukan yang sebenarnya diinginkan. Bagaimana kalau nanti malah pingin hal lain? Sudah capek berusaha, sia-sia. Atau alasan lain, misalnya, membayangkan cita-cita yang terlalu besar malah bikin stress, karena tidak tahu bagaimana untuk mulai menuju ke sananya.
Sekarang kita lupakan soal cita-cita dan mimpi untuk sementara. Siapa yang suka ayam goreng? Sekarang kalau saya tantang, sanggup ngga menghabiskan satu potong ayam goreng? Kalau lagi lapar, jangankan satu potong, dua juga mungkin bisa dilahap dengan cepat.
Sekarang tantangan saya ganti. Bagaimana kalau satu ekor kambing? Sanggup menghabiskan? Kalau kasusnya Anda ngga suka daging kambing, ya kambing diganti dengan sapi. Satu ekor sapi, sanggup menghabiskan?
Tentu saja bisa! Yang diperlukan kan hanyalah sebuah rencana dan perlengkapan yang sesuai. Sebuah freezer untuk membekukan daging sapi, yang tidak mungkin dihabiskan semua dalam sekali makan. Ditambah sebuah rencana untuk mengatasi kebosanan, seandainya harus makan daging sapi terus selama 50 hari ke depan. Misalnya resep masakan dibuat bervariasi.
Bukannya hal yang serupa juga bisa diterapkan dalam mengejar cita-cita. Tidak perlu memaksakan untuk mewujudkannya dalam satu malam. Selangkah demi selangkah.
Saya jadi ingat keinginan saya untuk bisa jogging. Saya waktu itu bukan seorang yang suka olah raga. Tapi keinginan itu tetap ada, terutama didorong oleh keinginan lain yang selaras: menurunkan berat badan. 
Semua dimulai sedikit demi sedikit. Mulai dari berlari dengan kecepatan rendah di mesin treatmill, selama 10 menit. Lalu meningkat jadi 15 menit, 30 menit. Lalu mulai coba lari di outdoor. Target-target kecil yang pada waktu itu terasa berat dan menyusahkan inilah yang menyiapkan jalan untuk menuju hasil yang diimpikan. Saya selalu berusaha menaklukkan target-target kecil yang terasa menantang tapi juga tidak mustahil untuk dicapai dalam situasi saat itu, seperti contohnya lari 30 menit tanpa berhenti. Keberhasilan untuk menaklukkan target-target kecil ini yang mengasah mentalitas untuk gigih berjuang meraih target besar.
Beberapa waktu yang lalu saya baru saja menyelesaikan jogging terpanjang, mengeliling sebuah danau sepanjang 8 km. Dan baru saja tadi sore, saya baru melakukan satu hal yang dua bulan lalu saya pikir sebagai hal gila yang seseorang mau lakukan. Ber-jogging di atas salju, mengelilingi danau sepanjang 3 km!
Semua dimulai dari langkah-langkah kecil. Dan langkah itu dimulai oleh diri sendiri.
Lalu seandainya saya berjuang mengejar mimpi, tapi di tengah jalan cita-cita itu berubah bagaimana? Ya tidak masalah, toh hal fundamental yang penting tetap didapatkan, yaitu mentalitas untuk mau mengejar mimpi. Mentalitas yang sama juga yang akan membuat kita lebih kuat seandainya terjatuh.
Mintalah, maka kamu akan diberi.
Carilah, maka kamu akan mendapatkan.
Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.