…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

…The Shack…

When you feel that you are tired of doctrines, guidelines, advice, and suggestions how to live a good life…..

When you feel that being a Christian is a demanding life to live…. come and visit The Shack. There is someone who waits for you there.

The Shack is a book. A fiction to be precise.

I understand that reading is not necessarily the most thrilling activity for everybody. Even for the ones who love reading, there is sort of a “right moment” which must be met in order to get the feel of the reading itself, if you know what I mean.

I believe there is such a moment. I don’t know when it is for you. You may not know it either. But that does not matter. While we are waiting for that moment to come, let’s remember there is a book called The Shack.

It is so diffcult not to shout it out loud when you find such a treasure.

…Survival Mode - Growing Mode…

Keinginan dan Keperluan. Keduanya adalah tenaga penggerak yang membuat seseorang melakukan suatu tindakan. Tidak jarang salah satunya harus dikorbankan karena yang lainnya lebih dirasa penting. Seringnya yang menjadi korban adalah Keinginan.

Pada dasarnya keduanya akan selalu ada di dalam diri seseorang. Keperluan berkaitan dengan security dan survival. Kenapa seseorang perlu bekerja, misalnya, adalah karena dia perlu memenuhi kebutuhan primernya untuk dapat bertahan hidup. Di sini digunakan asumsi bahwa yang bersangkutan bukanlah seorang yang kelebihan harta sehingga tidak perlu khawatir karena dia tidak akan pernah kelaparan. Keinginan berkaitan dengan kepuasan. Sebagai contoh, kenapa seseorang memilih karir sebagai engineer, adalah karena dia merasakan kepuasan ketika melakukan analisis ilmiah dan kemudian menghasilkan solusi yang bermanfaat. Kepuasan ini mendukung dan memacu growth.

Yang menjadi masalah adalah ketika seorang dihadapkan kepada pilihan yang memuat pertentangan antara keinginan dan keperluan. Membiarkan keperluan yang mendominasi dalam setiap pengambilan pilihan bisa membuat seseorang terjebak di dalam “survival mode”. Ini akan menghambat growth, yang mengakibatkan seseorang tidak pernah mencapai potensi yang sebenarnya dimilikinya. Memang betul bahwa manusia tidak pernah akan terlepas dari yang namanya keperluan. Tetapi jarang terjadi kejadian bahwa keadaan berubah dengan sendirinya ke “growing mode”. Pilihan perlu dibuat.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, keinginan yang bagaimana yang mendukung “growing mode”. Tentunya bukan sembarang keinginan, melainkan keinginan yang selaras dengan prinsip yang dipegang oleh seseorang. Prinsip adalah seumpama rambu-rambu yang mengarahkan seseorang di dalam setiap pengambilan pilihan dalam hidupnya. Prinsip bisa jadi diadopsi dari ajaran agama, didikan orang tua dan lingkungan, ataupun hasil pengolahan pikiran yang telah dilewati seseorang terhadap apa yang dipercayainya. Keinginan yang prinsipil inilah yang akan memacu growth seseorang. Sebagai contoh, seseorang yang menganut prinsip bahwa hidup adalah pengabdian kepada sesama manusia kemudian memilih untuk menjadi seorang dokter, karena dia menyukai ilmu kedokteran sekaligus menikmati kepuasan ketika bisa mengobati orang yang sakit dan mengembalikan kebahagiaan orang tersebut.

Memang tidak selalu mudah untuk menemukan keinginan-keinginan yang sifatnya mendukung growth ini. Seringnya memang lebih mudah untuk tetap berada di dalam “survival mode” karena yang perlu dilakukan hanyalah bereaksi terhadap keadaan. Tapi seorang yang seperti demikian adalah seseorang yang membiarkan keadaan mengendalikan kehidupannya. Dan bisa dipastikan kehidupan yang dikendalikan oleh keadaan tidak akan berkembang dengan optimal.

Pilihan untuk mengaktifkan “growing mode” memerlukan tindakan dari dalam diri seseorang. Tindakan yang akan mulai dan terus mengarahkan seseorang menuju potensi yang dimilikinya.

…Taruh Cita-cita Setinggi Bintang di Langit…

Nothing happens unless first a dream - Carl Sandburg

Cita-cita atau impian adalah komponen penting dalam kehidupan. Dia yang membuat seorang rela berjuang. Dia yang membuat seorang bangun pagi-pagi dan dengan semangat memulai aktivitasnya. Dia juga yang membuat orang sanggup berkutat sampai larut malam dalam kegiatannya.

Semakin tinggi cita-cita kita, semakin besar semangat yang ditimbulkannya. Tapi di sisi lain, sering orang takut bermimpi terlalu tinggi. Alasannya macam-macam. Mulai dari takut sakit kalau jatuh. Kalau jatuh dari tempat yang lebih tinggi kan lebih sakit, logika bilang begitu. Alasan lain, misalnya, takut nanti kalau sudah tercapai, eh ternyata itu bukan yang sebenarnya diinginkan. Bagaimana kalau nanti malah pingin hal lain? Sudah capek berusaha, sia-sia. Atau alasan lain, misalnya, membayangkan cita-cita yang terlalu besar malah bikin stress, karena tidak tahu bagaimana untuk mulai menuju ke sananya.

Sekarang kita lupakan soal cita-cita dan mimpi untuk sementara. Siapa yang suka ayam goreng? Sekarang kalau saya tantang, sanggup ngga menghabiskan satu potong ayam goreng? Kalau lagi lapar, jangankan satu potong, dua juga mungkin bisa dilahap dengan cepat.

Sekarang tantangan saya ganti. Bagaimana kalau satu ekor kambing? Sanggup menghabiskan? Kalau kasusnya Anda ngga suka daging kambing, ya kambing diganti dengan sapi. Satu ekor sapi, sanggup menghabiskan?

Tentu saja bisa! Yang diperlukan kan hanyalah sebuah rencana dan perlengkapan yang sesuai. Sebuah freezer untuk membekukan daging sapi, yang tidak mungkin dihabiskan semua dalam sekali makan. Ditambah sebuah rencana untuk mengatasi kebosanan, seandainya harus makan daging sapi terus selama 50 hari ke depan. Misalnya resep masakan dibuat bervariasi.

Bukannya hal yang serupa juga bisa diterapkan dalam mengejar cita-cita. Tidak perlu memaksakan untuk mewujudkannya dalam satu malam. Selangkah demi selangkah.

Saya jadi ingat keinginan saya untuk bisa jogging. Saya waktu itu bukan seorang yang suka olah raga. Tapi keinginan itu tetap ada, terutama didorong oleh keinginan lain yang selaras: menurunkan berat badan. :-)
Semua dimulai sedikit demi sedikit. Mulai dari berlari dengan kecepatan rendah di mesin treatmill, selama 10 menit. Lalu meningkat jadi 15 menit, 30 menit. Lalu mulai coba lari di outdoor. Target-target kecil yang pada waktu itu terasa berat dan menyusahkan inilah yang menyiapkan jalan untuk menuju hasil yang diimpikan. Saya selalu berusaha menaklukkan target-target kecil yang terasa menantang tapi juga tidak mustahil untuk dicapai dalam situasi saat itu, seperti contohnya lari 30 menit tanpa berhenti. Keberhasilan untuk menaklukkan target-target kecil ini yang mengasah mentalitas untuk gigih berjuang meraih target besar.

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja menyelesaikan jogging terpanjang, mengeliling sebuah danau sepanjang 8 km. Dan baru saja tadi sore, saya baru melakukan satu hal yang dua bulan lalu saya pikir sebagai hal gila yang seseorang mau lakukan. Ber-jogging di atas salju, mengelilingi danau sepanjang 3 km!

Semua dimulai dari langkah-langkah kecil. Dan langkah itu dimulai oleh diri sendiri.

Lalu seandainya saya berjuang mengejar mimpi, tapi di tengah jalan cita-cita itu berubah bagaimana? Ya tidak masalah, toh hal fundamental yang penting tetap didapatkan, yaitu mentalitas untuk mau mengejar mimpi. Mentalitas yang sama juga yang akan membuat kita lebih kuat seandainya terjatuh.

Mintalah, maka kamu akan diberi.

Carilah, maka kamu akan mendapatkan.

Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.